Woensdag 03 April 2013

sepucuk hidup



SEPUCUK HIDUP bagian 1

Menghirup udara pengap. Embun takdir membasuh sisa-sisa darah tempatku bersemedi. Mulai saat itu memotong urat usia. Ucapan syukur mendera tubuh mereka tersenyum hanya aku yang menangis. Adzan berkumandang dengan syahdu di telinga dari hati yang gagah dan berwibawa. Doa tak henti-hentinya terpanjatkan, mendoakan yang terbaik.

Masa ditimang, dimanja, diajari terlewati dibawah sadarku. Hatiku yang gagah mencari dan mengais dengan cakarnya yang kuat mengais tuk memberiku tubuh yang kuat dan bentuk kehidupan. Hatiku yang lembut mengusapku, mengecupku, menimangku memberiku kasih. Hatiku yang pintar selalu punya cara tuk buatku tertawa, merasa nyaman.

Kenakalan yang ku buat tak kan buat hatiku remuk redam. Justru buat hatiku tertawa lepas tapi tetap awasiku dengan norma dan hukum. Harapan yang tinggi ada dikedua punggung mungil ini. Tak terasa berat karena berbantalkan kasih sayang mereka.

Bagi mereka yang terpenting adalah aku yang baik bukan aku yang terbaik. Kecup hangat mereka tak pernah terhapus dari wajahku semakin bersinar ketika mereka mengajariku syukur kepada Sang Pencipta lewat syukur dan dzikir, semoga jadi candu.

Rasa manja tak terelakkan olehku mempunyai hati yang begitu hebat membuatku melambung tinggi, terlalu tinggi!. Sampai terlupakan olehku yang sesungguhnya harus dilakukan adalah kata syukur. Mungkin anggapan bahwa aku lebih membuatku melambung tak terkontrol membuatnya tak banyak yang mau berteman denganku, tapi tak pernah terpedulikan olehku.

Apapun itu jika hal itu mampu membuatku nyaman kulakukan itu. Bermacam-macam topeng bertumpuk dimuka membuatku tak tahu mana lawan dan mana kawan. Kusangka kawan ternyata lawan yang tangguh, kusangka lawan ternyata kawan yang dapat diandalkan.

Kesombonganku yang tak terlihat juga tak tersadari olehku sepenuhnya membuat mereka yang setingkat denganku tak pernah sungkan tuk memberiku pelajaran cacian atau pun makian. Tapi aku tak pernah jera karena kesombongan ini.

Pelajaran berharga itu belum ku tanam dalam otak bahkan tak sedikit pun terjamah dalam otakku.

Tapi hatiku tak pernah pedulikan aku yang nakal aku yang usil aku tetap mendapat kehidupan yang layak, memanjakan dan tak habis-habisnya berdoa untukku.

Potongan urat usia membawaku ke tempat baru. Kawan lama lawan baru berdatangan menghantam takdir ke muka. Aku dan hidupku tak pernah ada diwaktu itu, yang ada hanya aku dan permainan tak pernah serius melakukan apapun.

Tahap berikutnya aku sedikit diberi kecupan oleh kata pertemanan mereka mulai melihatku membantuku bahkan justru karena merekalah aku berada dalam deretan, tanpa mereka siapa aku?? Kepercayaan memang datang tapi aku tak pernah menyadarinya bahkan tak pernah berpikir untuk berubah jadi seuatas semangat. Cuma melambung tinggi!. Terlalu tinggi untuk bisa terlihat tak ada penghormatan. Ku kira mampuku merobohkan dinding dasar ternyata hanya karena kebaikan mereka aku dapat melampauinya.

Mencari tempat yang akan dirobohkan dinding pertamanya. Ternyata sulit hatiku bingung berlari kesana-kemari lalu melakukan percobaan ternyata tak. Hatiku terguncang terpukul bahkan terasa lebih sakit daripada jiwaku sendiri.

Mondar-mandir hatiku jadi sia-sia. Kutemukan dinding itu. Aku masih tetap dengan topeng angkuhku walau tak setinggi sebelumnya. Aku terpuruk tak mau berjuang tak mengerti hidup dan hati.

Tempat ini, aku baru menyadarinya kalau aku bukan orang tapi manusia aneh. Benar-benar merasa terpuruk rasa seni semakin meninggi. Melihat ke arahku ke arah hati pintar, ku tulis sebuah kata penghayatan.

Baru kusadari bahwa sepi itu terlalu menyesakkan untukku. Aku tak pernah mampu hidup dengan kata sepi jiwa merintih,,,sepi. Tapi dinding pertama juga temukan teman yang apa adanya mengerti, berbahagia dalam sepi!!!!.

Membuka lembaran-lembaran dulu kenapa hanya tercatat banyak sepi? Benarkah tak pernah kutorehkan bahagia disana?

Di dinginnya malam menggigil, dengarkan deraknya rasa aneh terus menyergapku.

Perjalanankan ku terus berlanjut. Di sisa-sisa berjalananku disini jiwaku meringkuk ada perkataan sang hati yang membuatku tercekat dan lumpuh. Aku memang tak mampu menjadi seperti hatiku yang baik itu, yang pintar itu, mungkin sampai kapan pun aku tak kan mampu tuk sedikit saja membuat separuh hatiku tersenyum bangga.

Jika sampai nanti, sampai matahari terbenam di ufuk barat. Aku masih belum saja mampu membuat hatiku tersenyum lega dan bangga aku minta maaf. Tapi semoga bintang yang selalu menjadi kebanggan mereka tetap ada untuk mendamaikan hati yang risau. Tapi aku percaya akan kekuatan doa, aku percaya akan belas kasih Tuhan yang akan selalu mendengar jerit dan rintihan hambanya.

Aku adalah aku, aku pasti bisa membuat bintangku bersinar hingga mereka dapat melihat setiap niat tulusku. Aku yakin waktu dan kesempatan itu akan datang suatu hari nanti!.

Lalu, dinding pertama telah roboh tanpa ada gejolak yang cukup berarti hanya sedikit ketakutan akan kesalahan yang sama tapi akhirnya tlah terlewati walaupun tak terlalu sempurna.

Pencarian dinding atas tak serumit sebelumnya, ku menemukannya dan sedikit kutemukan hatiku sedikit senyum, aku bersyukur. Disini, awalnya tak ku temukan apa-apa yang menyenangkan sampai disuatu pagi sudut mataku tak sengaja menemukan sesosok yang mampu membuatku sedikit tertegun.


Sayu matamu mencipta untaian kata 
Membentuk jajaran puisi terindah 
Yang tercipta hanya untukmu 
Senyum manismu mencipta lukisan 
Diantara kegersangan hati 
Lukisan sang hawa yang tertegun melihatmu 
Aku yang melihatmu dari jauh 
Dibalik kedua bola mata ini 
Melihat kearifan yang terpancar dari jiwamu 
Kau begitu indah 
Hingga ku yakin 
Kaulah inspirasiku 

Sosok itu yang mampu membuatku sedikit menikmati drama ini. Awal kisah ku bertemu dengan seseorang itu. Mulai mencoba selangka demi selangkah mendekatinya tapi pada akhirnya aku tau bukan dia yang ku tunggu.

……..



Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking