Dinsdag 30 April 2013

senja tubuhku bergetar mendengar pernyataanmu, aku tau itulah isi hatimu selama ini. tak ada hal yang bisa aku katakan selain maaf. sungguh jika bisa jika boleh diktekan saja apa yang harus aku lakukan. aku tahu jika itu yang aku katakan yang jelas pasti akan ada kata yang terucap sampai kapan kau harus di diktekan akan semua hal. kapan giliranmu bisa berdiri sendiri, kapan kamu bisa dengan dengan tulus berucap terima kasih pada senja.

ya allah selama ini memang tak banyak hal yang benar yang telah aku lakukan
lindungilah orang tua ku selalu, sampaikan rasa maafku sampaikan rasa terima kasihku untuk mereka,
sungguh jika aku memikirkan kematian aku memang tak siap, terlalu banyak dosa
aku tahu aku bakalan disiksa si kuburku nanti, tapi jika aku terus ada disini betapa senja ku mungkin tersiksa dengan segala hal yang selalu aku lakukan
aku hanya ingin menjadi hambamu yang benar-benar
sisa getaran senja membuatku lumpuh, tapi hanya mampu terus berjalan. aku tetap mencintaumu senja :)

buat A

.....30088203
sampai kapan pun memang tak akan berybah menjadi kata send karena telah berpindah alamat. tapi tak ada cara lain aku akan tetap mengirimkannya lewat alamat itu walau percuma tapi setidaknya walau pun kau tak lagi menerimanya setidaknya waktu tau bahwa aku disini masih menunggumu

“ちょっといい?”といつも私のかんがえる、色々なことが話したいと思う、でもうきっとあなたに笑われる。

“私は楽しかった。日本語を勉強することができた。時々いやになり。するとあなたに思い出す。実はずっとあなたに働くし遊びし、何もします。でも私もわかったありうないですよ。
もうよう、ありがとう“ と 彼は思って話したいです。

Woensdag 03 April 2013

isi hati

senja,,,disudut jiwa ini selalu terlukis senyummu. Jika aku mampu ingin ku hapus segala gelisah yang sering menghampiri, menghapus kabut itu dari pelupuk matamu. Sebelum nafas ini berakhir ingin ku lakukan satu perjalanan sakral itu, tapi bagaimana? Keajaiban seperti apa agar hal itu terjadi?
Atau pekerjaan gila apa yang harus  ku tempuh?
Diktekan aku akan hal itu....
Aku tak tau apa yang sedang terjadi saat ini?
Aku tak tau arahku, senuanya bungkam. Lalu bingkisan lainnya kembali bersama orang-orang baik itu menikmati detik bersama. Senja ingin ku kecup keningmu, memelukmu, bermanja-manja di pangkuanmu. Senja ini bukan sekedar wacana jika kau tau aku ingin sekali menghapus gelisah dan gundamu dan menutupnya dengan senyum. Ditanah lapang itu aku berharap mampu menikmati bersama denganmu. Ditanah lapang itu aku berharap mampu menikmatinya bersamamu. Aku bersyukur memiliki senja disisiku maaf jika akulah gelisah itu terbit, terkadang ke-akuan kulah yang membuatnya seperti itu.

sebuah tabir terbuka

kalau dalam mimpi kau sebut ini mimpi buruk tapi ini nyata lalu kau sebut apa?
Ayolah ini sepucuk surat dari Sang Pemilik Hidup agar aku tak lagi angkuh agar aku kembali berdzikir padaNya cuma itu bantu aku jangan malah turun semua.
Mereka bilang gak usah dipikir ikhlas, sudah ku lakukan malah mereka yang turun apa aku gak ikutan turun kalo pada turun semua?
Sekarang malah 'marah-marah gak jelas' lah kok lama-lama jadi cuek begini, lagian ini bukan mauku tapi ini perkataan Sang Takdir, maaf.
Sudah berusaha gede ni, tengok kanan kiri pada turun semua, terkadang malah ngrasa jadi terdakwah. Aku tak apa, janganlah turun semua.

Musim semi di bulan juli

Musim semi di bulan juli mendapati diri tersenyum menggiring diri menuju pelabuhan senja tertidur pulas bersama terangnya fajar pagi. menggenggam 'SPK' dengan gemetar. tidurku kan tersenyum...Hati yang selalu tertinggal dipelabuhan senja kini menyandingku disisiku dekat sekali. aku dapati diri tersenyum tiada henti sekarang pun memikirkan si Juli senyumku mengembang

sepucuk hidup



SEPUCUK HIDUP bagian 1

Menghirup udara pengap. Embun takdir membasuh sisa-sisa darah tempatku bersemedi. Mulai saat itu memotong urat usia. Ucapan syukur mendera tubuh mereka tersenyum hanya aku yang menangis. Adzan berkumandang dengan syahdu di telinga dari hati yang gagah dan berwibawa. Doa tak henti-hentinya terpanjatkan, mendoakan yang terbaik.

Masa ditimang, dimanja, diajari terlewati dibawah sadarku. Hatiku yang gagah mencari dan mengais dengan cakarnya yang kuat mengais tuk memberiku tubuh yang kuat dan bentuk kehidupan. Hatiku yang lembut mengusapku, mengecupku, menimangku memberiku kasih. Hatiku yang pintar selalu punya cara tuk buatku tertawa, merasa nyaman.

Kenakalan yang ku buat tak kan buat hatiku remuk redam. Justru buat hatiku tertawa lepas tapi tetap awasiku dengan norma dan hukum. Harapan yang tinggi ada dikedua punggung mungil ini. Tak terasa berat karena berbantalkan kasih sayang mereka.

Bagi mereka yang terpenting adalah aku yang baik bukan aku yang terbaik. Kecup hangat mereka tak pernah terhapus dari wajahku semakin bersinar ketika mereka mengajariku syukur kepada Sang Pencipta lewat syukur dan dzikir, semoga jadi candu.

Rasa manja tak terelakkan olehku mempunyai hati yang begitu hebat membuatku melambung tinggi, terlalu tinggi!. Sampai terlupakan olehku yang sesungguhnya harus dilakukan adalah kata syukur. Mungkin anggapan bahwa aku lebih membuatku melambung tak terkontrol membuatnya tak banyak yang mau berteman denganku, tapi tak pernah terpedulikan olehku.

Apapun itu jika hal itu mampu membuatku nyaman kulakukan itu. Bermacam-macam topeng bertumpuk dimuka membuatku tak tahu mana lawan dan mana kawan. Kusangka kawan ternyata lawan yang tangguh, kusangka lawan ternyata kawan yang dapat diandalkan.

Kesombonganku yang tak terlihat juga tak tersadari olehku sepenuhnya membuat mereka yang setingkat denganku tak pernah sungkan tuk memberiku pelajaran cacian atau pun makian. Tapi aku tak pernah jera karena kesombongan ini.

Pelajaran berharga itu belum ku tanam dalam otak bahkan tak sedikit pun terjamah dalam otakku.

Tapi hatiku tak pernah pedulikan aku yang nakal aku yang usil aku tetap mendapat kehidupan yang layak, memanjakan dan tak habis-habisnya berdoa untukku.

Potongan urat usia membawaku ke tempat baru. Kawan lama lawan baru berdatangan menghantam takdir ke muka. Aku dan hidupku tak pernah ada diwaktu itu, yang ada hanya aku dan permainan tak pernah serius melakukan apapun.

Tahap berikutnya aku sedikit diberi kecupan oleh kata pertemanan mereka mulai melihatku membantuku bahkan justru karena merekalah aku berada dalam deretan, tanpa mereka siapa aku?? Kepercayaan memang datang tapi aku tak pernah menyadarinya bahkan tak pernah berpikir untuk berubah jadi seuatas semangat. Cuma melambung tinggi!. Terlalu tinggi untuk bisa terlihat tak ada penghormatan. Ku kira mampuku merobohkan dinding dasar ternyata hanya karena kebaikan mereka aku dapat melampauinya.

Mencari tempat yang akan dirobohkan dinding pertamanya. Ternyata sulit hatiku bingung berlari kesana-kemari lalu melakukan percobaan ternyata tak. Hatiku terguncang terpukul bahkan terasa lebih sakit daripada jiwaku sendiri.

Mondar-mandir hatiku jadi sia-sia. Kutemukan dinding itu. Aku masih tetap dengan topeng angkuhku walau tak setinggi sebelumnya. Aku terpuruk tak mau berjuang tak mengerti hidup dan hati.

Tempat ini, aku baru menyadarinya kalau aku bukan orang tapi manusia aneh. Benar-benar merasa terpuruk rasa seni semakin meninggi. Melihat ke arahku ke arah hati pintar, ku tulis sebuah kata penghayatan.

Baru kusadari bahwa sepi itu terlalu menyesakkan untukku. Aku tak pernah mampu hidup dengan kata sepi jiwa merintih,,,sepi. Tapi dinding pertama juga temukan teman yang apa adanya mengerti, berbahagia dalam sepi!!!!.

Membuka lembaran-lembaran dulu kenapa hanya tercatat banyak sepi? Benarkah tak pernah kutorehkan bahagia disana?

Di dinginnya malam menggigil, dengarkan deraknya rasa aneh terus menyergapku.

Perjalanankan ku terus berlanjut. Di sisa-sisa berjalananku disini jiwaku meringkuk ada perkataan sang hati yang membuatku tercekat dan lumpuh. Aku memang tak mampu menjadi seperti hatiku yang baik itu, yang pintar itu, mungkin sampai kapan pun aku tak kan mampu tuk sedikit saja membuat separuh hatiku tersenyum bangga.

Jika sampai nanti, sampai matahari terbenam di ufuk barat. Aku masih belum saja mampu membuat hatiku tersenyum lega dan bangga aku minta maaf. Tapi semoga bintang yang selalu menjadi kebanggan mereka tetap ada untuk mendamaikan hati yang risau. Tapi aku percaya akan kekuatan doa, aku percaya akan belas kasih Tuhan yang akan selalu mendengar jerit dan rintihan hambanya.

Aku adalah aku, aku pasti bisa membuat bintangku bersinar hingga mereka dapat melihat setiap niat tulusku. Aku yakin waktu dan kesempatan itu akan datang suatu hari nanti!.

Lalu, dinding pertama telah roboh tanpa ada gejolak yang cukup berarti hanya sedikit ketakutan akan kesalahan yang sama tapi akhirnya tlah terlewati walaupun tak terlalu sempurna.

Pencarian dinding atas tak serumit sebelumnya, ku menemukannya dan sedikit kutemukan hatiku sedikit senyum, aku bersyukur. Disini, awalnya tak ku temukan apa-apa yang menyenangkan sampai disuatu pagi sudut mataku tak sengaja menemukan sesosok yang mampu membuatku sedikit tertegun.


Sayu matamu mencipta untaian kata 
Membentuk jajaran puisi terindah 
Yang tercipta hanya untukmu 
Senyum manismu mencipta lukisan 
Diantara kegersangan hati 
Lukisan sang hawa yang tertegun melihatmu 
Aku yang melihatmu dari jauh 
Dibalik kedua bola mata ini 
Melihat kearifan yang terpancar dari jiwamu 
Kau begitu indah 
Hingga ku yakin 
Kaulah inspirasiku 

Sosok itu yang mampu membuatku sedikit menikmati drama ini. Awal kisah ku bertemu dengan seseorang itu. Mulai mencoba selangka demi selangkah mendekatinya tapi pada akhirnya aku tau bukan dia yang ku tunggu.

……..



Maandag 01 April 2013

tetang senja

guratan emas menggelitik mataku
mengguratkannya diwajah senja
sedikit menggertak
tubuh mulai bergetar
harus berpacu dengan waktu
sebelum malam menenggelamkanku

Lama aku tak bercumbu dengan sajak yang dulu pernah membuatku sungguh merasakan sesuatu yang kini untuk membayangkan pun begitu sulit. Mencari-cari hal itu yang mampu menenangkan batin tak pernah tersadari olehku mungkinkah sesosok  yang ku cari ada pada dirimu. Semuanya masih sama masih kelabu……….buram…………tapi seperti kata seseorang itu aku disini hanya menjalani scenario Tuhan. Tak berucap pun Tuhan tau apa yang benar-benar aku tunggu saat ini. Mungkin hanya sedikit saja tuk kembali mengecup senyumya bukan dalam dirinya tapi mungkin dalam diri seseorang yang memang untukku. Harapan atau kata cinta itu sendiri tak pernah ku tau dengan sungguh bagaimana bentuk dan wujudnya. Mugkin jika hal ini kan slalu terulang hatiku kan benar-benar beku menunggumu jangan jadikan hal itu, jika itu tak mungkin. Sadarkan aku segera ‘tutup pintu batinku’ ‘butakan mataku’ ‘tulikan telingaku’ ‘lumpuhkan kakiku’.

Saterdag 30 Maart 2013


Syairku melambung..
Aku ingin segera kembali disisi senja menggelanyut manja. Tubuh gemetar melihat guratan dan rintihan kidung malam yang membayang terus ketika senja berjalan
Jadikan aku laki-laki mampu tegar renta menyelinap atau tampar aku agar aku sadarku tau apa yang harus aku lakukan

,,,ku lanjutkan hidupkanku.
Merintih lelah mendayung sampan ingin berlabuh dikaki senja meluruskan kaki yang terbijur kaku
Diatas tumpukan emas ombak tak mampu menghempaskan tubuh ke tepi malah ke tengah
“ini bukan hidup!”
Seruku ini adalah hal gila tapi mampu memerahkan senja. Sandaran menghilang atau tertinggal?
Ketika ku menoleh kebelakang ingin sekali aku bertemu lalu memelukmu
Ingin kembali bersama tertawa, tersenyum sampai tiada hentinya
Tapi nyatanya tak ku temui apa-apa

Lelah merintih
Kerikil mengganjal mataku
Melelehkan butiran airnya karena senja aku tetap bertahan disini
Coretan tinta itulah yang ku mau, ingin ter katakan pada senja
Semoga sanggup menjanjikan masa depan
Tak akan pernah ada yang mampu menentang kuasaMu
Sebegitu besarnya kuasaMu
Semudah itu pula Kau membolak-balikkan hatiku

robohnya dinding putih abu-abu


Dinding itu telah roboh
Potret bangunan tua terasingkan sebentar lagi ditinggalkan
Partikel-partikel kecil menari dengan gemulai mendramakan masa yang baru saja berlalu
Tawa tangis ejekan pertengkaran kenakalan
Setiap sudut merekam suara sumbang yang sempat menggema
Cat-cat yang mengelupas yang memudarkan masa keagungannya dulu menyadarkanku akan adanya jarak diantara kita
Jika aku mampu inginku patahkan jarum waktu biar waktu hanya berdetak disini saja dimasa ini sampai kakiku benar-benar siap untuk berpijak sendiri di bumi ini. Sampai wajah kecilku pudar dan tertidur lelap di mas peradapannya. Tapi sudahlah sebelum jingga itu datang ku tarik pegas mimpi agar dia meluncur dan memacu detak jantung ku untuk esok hari

masih tentangmu A

aku wanita kecil ingin sejat, jika aku salah ajari aku
jika aku takut disinilah agar aku merassa tenang
jika aku lemah kuatkan aku.
jika aku salah ajari aku,
aku sok tau, sok pintar, sok dewasa jadi ajari aku tuk melebur "sok" ku itu
agar aku jadi tahu, pintar dan dewasa.
setiap bahasa tubuh alam seperti memberiku rentetan petunjuk tuk merangkai potongan-potongan puzzel. merangkak perlahan sambil belajar mengucap syukur ketika badai datang
merebahkan lelah di benteng terakhirku
meledakkan emosi lewat ucapan syukurnya
hatiku bergetar
aku bersimpuh di sudut itu lama
melelehkan  segala lelah, menegarkan tulang punggung dan kaki yang telah remuk tertindas

2010 @ loker

membenamkan luka ke lumpur, perih!!
menolah kearahmu hanya membuat si naluri ketar-ketir
lelah menunggu tapi juga ragu tuk pergi
aku butuh kamu ketika ada kebakaran
karena asapnya membuatku mataku rabun dan sesak
kembalilah...
melewati masa putih abu-abu lalu ditinggalkan si putih
berjalan gontai melalui si abu-abu bersama merah membakar hati
abu-abu ini mengalir gelap, kiraku disini bersama tumbuhnya gigi gerahamku jadi ayu
eeeh.....malah "misu-misuh"
aku lapar malah tertampar terkapar sekarat
jadi bola pingpong di smesh sana sini
pusing,, mengigil kedinginan
mati suri

2010


Mengucur lelah lewat tinta-tinta
mencairkan emosi lewat coretan tinta
melucuti lelah lewat dialog batin antara si naluri dan si ego
Nafsuku untuk pergi dan nafsu senja untuk selamanya mengayuh sampan disini mungkin sama besarnya
Ingin membentuk biduk sepucuk pesan di sore hari untuk senja, tapi guratan emas yang bersinar di pelupuk mata senja membuatku bungkam, lumpuh.
Si naluri dan si ego terus berdebat, tak jelas siapa yang menang yang ku tahu sampan ini harus ku kayuh. Penuh tambalan disana-sini terjadi bocor berkali-kali hampir aku tenggelam dan terjatuh tapi sinar senja yang terus mengapungkanku dilautan maha luas ini.
Memejamkan mata mencari sepi , disini ku temui bahkan sepi itu masih seriuh ini, suara-suara yang sering terabaikan jadi jelas terdengar tapi yang kucari sepi bukan kesepian.

for A


Sajak malam
        Melalui waktu begitu saja, memotong urat usia begitu saja. Sejenak tertawa sejenak kemudian menangis semua terekam dalam dimensi waktu, tertulis dalam setiap lembar buku abu-abu. Di malam hari aku selalu tertegun melihat lukisan Tuhan menengadah kemudian menikmatinya tapi rasa sepi ini tetap tinggal.
        Aku tak punya banyak teman, entah aku tak suka keramaian yang terlalu tapi aku juga benci sepi karena semkin membuatku merasa sendiri. Walaupun sejak awal sejak aku lahir bahkan nanti sampai aku mati, aku tetap sendiri bahkan mungkin bisa dibilang aku punya teman hanya untuk memungkiri diri bahwa sesungguhnya segala sesuatunya harus ku kerjakan sendiri.
        Di malam itu sebuah bintang jatuh mengirimkan aku sesorang yang membuatku merasa lebih hidup. Aku senang dia datang dan selalu ada. Setiap siang setiap malam terjadi percakapan yang menyenangkan lewat lembaran maya, aku senang dan mulai mengaguminya.
        Aku dan bintang itu saling mengenal, cukup lama, aku begitu tenang dia ada. Walaupun dia yang ku tahu cuma sebuah bintang, kilaunya saja. Aku ingin bisa melihat wujudnya.
        Di suatu malam entah kenapa angin begitu besar berhembus seakan menghalangiku tuk menemui bintang itu lagi. Awalnya aku ragu tuk pergi tapi aku tak penah mau melewatkan cerita seru yang sering disajikan bintang, akhirnya aku pergi dan aku menemuinya sedang bersanding dengan yang lain. Aku ikut berbahagia hanya saja mulai saat itu tak pernah ku temui wujudnya dalam lembaran maya. Seperti dalam dongeng selama dia absen hujan selalu menemani. Aku rindu kilau bijakmu!.
Aku ingin kembali membelah dunia bersama angin yang berhembus menerpa senyum yang sempat hilang. Lembaran maya yang menggantungkan senyum dan bahagia hampir patah terbelah rasa hampa, getaran nadi menjalar ke seluruh tubuh hingga sulit kaki tuk melangkah keluar dari besi beton yang menjulang tinggi mengelilingi, tak mungkin keluar karena tubuhku tak bisa jauh darimu tak mungkin juga aku terus melangkah mendekat karena tak tercipta untukku. Membiarkan diri terombang-ambing oleh apa pun yang menerpa
Lamunan melayang ke masa ku,,,
Brandon adalah lembah peri, disanalah para peri menghiburku :
Nixie adalah peri air dia memberiku gemercik air tuk menenangkan kebakaran jiwaku
Artema adalah peri penjaga bulan dia memberiku bulan untuk gantikan wajahmu dalam hidupku
Hestia adalah peri bumi dia memberi bumi sebuah tempat dimana aku menunggumu
Radella adlah peri penasihat dia menasihatiku bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan
Aphrodite adalah peri cinta dia memberiku hal terindah yaitu cinta
Fortuna adalah peri keberuntungan dia memberiku keberuntungan yaitu mengizinkan mencintaimu
Tapi itu semua tetap tak mencairkan hatimu aku telah menggantungkan doa di pohon suci. Pohon York dan aku telah mencapai menara magola dan mengambil helianthe tuk cairkan hatimu yang beku tapi hatimu masih saja beku jadi apa yang harus aku lakukan tuk cairkan hatimu?
Ingatkah kau untuk sebaris kata itu??
        Masalah demi masalah mulai mencakar mukaku mencabik-cabik apapun yang menghadang, ku obati luka itu sendiri sambil meyakinkan diri bahwa bintangku hanya tersesat di jagat raya yang terlalu luas.
“ Mungkin dia cuma tersesat atau mungkin dia mampir di suatu tempat ya... dia hanya butuh sendiri tenang saja dia pasti kembali aku yakin dia tau, kan selalu ada yang mengagumi dan menunggunya disini”.
Hatiku meringkuk di sebuah sudut waktu. Lelah jiwaku menunggu sang fajar yang terbit disenyummu. Ada sebuah kata yang menghujami jiwaku sudah ada yang mengikat hatinya. Tapi aku ikut berbahagia
Setiap malam meyakinkan diri kan kembali hadirnya.
_awan ku gelisah burung-burung terbang semburat tanpa arah. Ada rasa ngilu didada sang alien tak mau turun ke bumi tuk sejenak saja menjengukku, ku merindukan senyum ganjilnya_
Dan benar saja esok dia datang berjanji akan bertemu menunjukkan wajah asli masing-masing, aku tersenyum.
“ Aku kan melihat senyumnya!”
Keesokanharinya ketemui dia tuk memastikan hal itu tapi dia kembali tertelan gelap.
“ Tersesatkah dia??”
Aku kembali menunggunya, menunggu dan menunggu tapi yang tertulis dalam lembaran maya hanya ‘menunggu’ aku takut kata send menghilang bersama dia dan benar saja sampai satu tahun kemudian tak pernah kutemui kata send.
Taukah kau bintang yang sempat hadir di lembar maya. Aku masih disini tertegun melihat biduk yang terpampang bersama hadirmu dulu. Mudah sekali aku pergi dari orang-orang itu tapi aku tak pernah mampu pergi darimu bahkan dari bayangmu sekalipun. Aku memang tak cukup mengenalmu tapi kilau bijakmu kata-kata konyolmu terlalu hahh....yang ku tau kau pasti bahagia disana. Kau pergi tanpa sempat menoleh ke arahku sebelum sempat ku tau senyum aslimu. Tapi ku ucapkan terima kasih telah menyempatkan diri untuk sejenak mampir dikehidupanku
_ingatkah kau pada sebuah bayangan? Bayangan yang terlupakan bayangan yang menemanimu dan yang mendoakanmu dibalik punggungmu
“semoga Tuhan melindungi setiap langkahmu dan semua apa yang kau harapkan dapat tercapai di usiamu”
Dilelapnya tidurmu malam itu dia mengucapkan doa didetik pertama harimu. Tak dipedulikan olehmu bukan berarti dia akan berhenti menemanimu langkahmu atau berhenti mendoakanmu...
Dia akan melakukan itu sampai kapan pun karena bayangin itu adalah aku yang mencintaimu..._