Sajak malam
Melalui waktu begitu saja, memotong urat usia begitu saja. Sejenak
tertawa sejenak kemudian menangis semua terekam dalam dimensi waktu, tertulis
dalam setiap lembar buku abu-abu. Di malam hari aku selalu tertegun melihat
lukisan Tuhan menengadah kemudian menikmatinya tapi rasa sepi ini tetap
tinggal.
Aku
tak punya banyak teman, entah aku tak suka keramaian yang terlalu tapi aku juga
benci sepi karena semkin membuatku merasa sendiri. Walaupun sejak awal sejak aku lahir bahkan nanti sampai aku mati, aku tetap
sendiri bahkan mungkin bisa dibilang aku punya teman hanya untuk memungkiri
diri bahwa sesungguhnya segala sesuatunya harus ku kerjakan sendiri.
Di
malam itu sebuah bintang jatuh mengirimkan aku sesorang yang membuatku merasa
lebih hidup. Aku senang dia datang dan selalu ada. Setiap siang setiap malam
terjadi percakapan yang menyenangkan lewat lembaran maya, aku senang dan mulai
mengaguminya.
Aku
dan bintang itu saling mengenal, cukup lama, aku begitu tenang dia ada.
Walaupun dia yang ku tahu cuma sebuah bintang, kilaunya saja. Aku ingin bisa
melihat wujudnya.
Di
suatu malam entah kenapa angin begitu besar berhembus seakan menghalangiku tuk
menemui bintang itu lagi. Awalnya aku ragu tuk pergi tapi aku tak penah mau
melewatkan cerita seru yang sering disajikan bintang, akhirnya aku pergi dan aku menemuinya sedang bersanding dengan yang
lain. Aku ikut berbahagia hanya saja mulai saat itu tak pernah ku temui
wujudnya dalam lembaran maya. Seperti dalam dongeng selama dia absen hujan
selalu menemani. Aku rindu kilau bijakmu!.
Aku ingin
kembali membelah dunia bersama angin yang berhembus menerpa senyum yang sempat
hilang. Lembaran maya yang menggantungkan senyum dan bahagia hampir patah
terbelah rasa hampa, getaran nadi menjalar ke seluruh tubuh hingga sulit kaki
tuk melangkah keluar dari besi beton yang menjulang tinggi mengelilingi, tak
mungkin keluar karena tubuhku tak bisa jauh darimu tak mungkin juga aku terus
melangkah mendekat karena tak tercipta untukku. Membiarkan diri terombang-ambing
oleh apa pun yang menerpa
Lamunan
melayang ke masa ku,,,
Brandon adalah lembah peri, disanalah para
peri menghiburku :
Nixie adalah peri air dia memberiku gemercik
air tuk menenangkan kebakaran jiwaku
Artema adalah peri penjaga bulan dia
memberiku bulan untuk gantikan wajahmu dalam hidupku
Hestia adalah peri bumi dia memberi bumi
sebuah tempat dimana aku menunggumu
Radella adlah peri penasihat dia menasihatiku
bahwa cinta itu membutuhkan pengorbanan
Aphrodite adalah peri cinta dia memberiku hal
terindah yaitu cinta
Fortuna adalah peri keberuntungan dia
memberiku keberuntungan yaitu mengizinkan mencintaimu
Tapi itu semua tetap tak mencairkan hatimu
aku telah menggantungkan doa di pohon suci. Pohon York dan aku telah mencapai
menara magola dan mengambil helianthe tuk cairkan hatimu yang beku tapi hatimu
masih saja beku jadi apa yang harus aku lakukan tuk cairkan hatimu?
Ingatkah
kau untuk sebaris kata itu??
Masalah
demi masalah mulai mencakar mukaku mencabik-cabik apapun yang menghadang, ku
obati luka itu sendiri sambil meyakinkan diri bahwa bintangku hanya tersesat di
jagat raya yang terlalu luas.
“ Mungkin dia cuma tersesat atau
mungkin dia mampir di suatu tempat ya... dia hanya butuh sendiri tenang saja dia pasti kembali aku yakin dia tau, kan selalu ada yang mengagumi dan menunggunya disini”.
Hatiku
meringkuk di sebuah sudut waktu. Lelah jiwaku menunggu sang fajar yang terbit
disenyummu. Ada sebuah kata yang menghujami jiwaku sudah ada yang mengikat
hatinya. Tapi aku ikut berbahagia
Setiap malam meyakinkan diri kan kembali
hadirnya.
_awan ku
gelisah burung-burung terbang semburat tanpa arah. Ada rasa ngilu didada sang
alien tak mau turun ke bumi tuk sejenak saja menjengukku, ku merindukan senyum ganjilnya_
Dan benar saja esok dia datang berjanji akan
bertemu menunjukkan wajah asli masing-masing, aku tersenyum.
“ Aku kan melihat senyumnya!”
Keesokanharinya ketemui dia tuk memastikan
hal itu tapi dia kembali tertelan gelap.
“ Tersesatkah dia??”
Aku kembali menunggunya, menunggu dan
menunggu tapi yang tertulis dalam lembaran maya hanya ‘menunggu’
aku takut kata send menghilang bersama dia dan benar saja sampai satu tahun
kemudian tak pernah kutemui kata send.
Taukah
kau bintang yang sempat hadir di lembar maya. Aku masih disini tertegun melihat
biduk yang terpampang bersama hadirmu dulu. Mudah sekali aku pergi dari
orang-orang itu tapi aku tak pernah mampu pergi darimu bahkan dari bayangmu sekalipun. Aku memang tak
cukup mengenalmu tapi kilau bijakmu kata-kata konyolmu terlalu hahh....yang ku
tau kau pasti bahagia disana. Kau pergi tanpa sempat menoleh ke arahku sebelum sempat ku tau
senyum aslimu. Tapi ku ucapkan terima kasih telah menyempatkan diri untuk
sejenak mampir dikehidupanku
_ingatkah
kau pada sebuah bayangan? Bayangan yang terlupakan bayangan yang menemanimu dan
yang mendoakanmu dibalik punggungmu
“semoga
Tuhan melindungi setiap langkahmu dan semua apa yang kau harapkan dapat tercapai
di usiamu”
Dilelapnya
tidurmu malam itu dia mengucapkan doa didetik pertama harimu. Tak dipedulikan
olehmu bukan berarti dia akan berhenti menemanimu langkahmu atau berhenti
mendoakanmu...
Dia akan
melakukan itu sampai kapan pun karena bayangin itu adalah aku yang
mencintaimu..._
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking