Woensdag 03 April 2013

sebuah tabir terbuka

kalau dalam mimpi kau sebut ini mimpi buruk tapi ini nyata lalu kau sebut apa?
Ayolah ini sepucuk surat dari Sang Pemilik Hidup agar aku tak lagi angkuh agar aku kembali berdzikir padaNya cuma itu bantu aku jangan malah turun semua.
Mereka bilang gak usah dipikir ikhlas, sudah ku lakukan malah mereka yang turun apa aku gak ikutan turun kalo pada turun semua?
Sekarang malah 'marah-marah gak jelas' lah kok lama-lama jadi cuek begini, lagian ini bukan mauku tapi ini perkataan Sang Takdir, maaf.
Sudah berusaha gede ni, tengok kanan kiri pada turun semua, terkadang malah ngrasa jadi terdakwah. Aku tak apa, janganlah turun semua.

Musim semi di bulan juli

Musim semi di bulan juli mendapati diri tersenyum menggiring diri menuju pelabuhan senja tertidur pulas bersama terangnya fajar pagi. menggenggam 'SPK' dengan gemetar. tidurku kan tersenyum...Hati yang selalu tertinggal dipelabuhan senja kini menyandingku disisiku dekat sekali. aku dapati diri tersenyum tiada henti sekarang pun memikirkan si Juli senyumku mengembang

sepucuk hidup



SEPUCUK HIDUP bagian 1

Menghirup udara pengap. Embun takdir membasuh sisa-sisa darah tempatku bersemedi. Mulai saat itu memotong urat usia. Ucapan syukur mendera tubuh mereka tersenyum hanya aku yang menangis. Adzan berkumandang dengan syahdu di telinga dari hati yang gagah dan berwibawa. Doa tak henti-hentinya terpanjatkan, mendoakan yang terbaik.

Masa ditimang, dimanja, diajari terlewati dibawah sadarku. Hatiku yang gagah mencari dan mengais dengan cakarnya yang kuat mengais tuk memberiku tubuh yang kuat dan bentuk kehidupan. Hatiku yang lembut mengusapku, mengecupku, menimangku memberiku kasih. Hatiku yang pintar selalu punya cara tuk buatku tertawa, merasa nyaman.

Kenakalan yang ku buat tak kan buat hatiku remuk redam. Justru buat hatiku tertawa lepas tapi tetap awasiku dengan norma dan hukum. Harapan yang tinggi ada dikedua punggung mungil ini. Tak terasa berat karena berbantalkan kasih sayang mereka.

Bagi mereka yang terpenting adalah aku yang baik bukan aku yang terbaik. Kecup hangat mereka tak pernah terhapus dari wajahku semakin bersinar ketika mereka mengajariku syukur kepada Sang Pencipta lewat syukur dan dzikir, semoga jadi candu.

Rasa manja tak terelakkan olehku mempunyai hati yang begitu hebat membuatku melambung tinggi, terlalu tinggi!. Sampai terlupakan olehku yang sesungguhnya harus dilakukan adalah kata syukur. Mungkin anggapan bahwa aku lebih membuatku melambung tak terkontrol membuatnya tak banyak yang mau berteman denganku, tapi tak pernah terpedulikan olehku.

Apapun itu jika hal itu mampu membuatku nyaman kulakukan itu. Bermacam-macam topeng bertumpuk dimuka membuatku tak tahu mana lawan dan mana kawan. Kusangka kawan ternyata lawan yang tangguh, kusangka lawan ternyata kawan yang dapat diandalkan.

Kesombonganku yang tak terlihat juga tak tersadari olehku sepenuhnya membuat mereka yang setingkat denganku tak pernah sungkan tuk memberiku pelajaran cacian atau pun makian. Tapi aku tak pernah jera karena kesombongan ini.

Pelajaran berharga itu belum ku tanam dalam otak bahkan tak sedikit pun terjamah dalam otakku.

Tapi hatiku tak pernah pedulikan aku yang nakal aku yang usil aku tetap mendapat kehidupan yang layak, memanjakan dan tak habis-habisnya berdoa untukku.

Potongan urat usia membawaku ke tempat baru. Kawan lama lawan baru berdatangan menghantam takdir ke muka. Aku dan hidupku tak pernah ada diwaktu itu, yang ada hanya aku dan permainan tak pernah serius melakukan apapun.

Tahap berikutnya aku sedikit diberi kecupan oleh kata pertemanan mereka mulai melihatku membantuku bahkan justru karena merekalah aku berada dalam deretan, tanpa mereka siapa aku?? Kepercayaan memang datang tapi aku tak pernah menyadarinya bahkan tak pernah berpikir untuk berubah jadi seuatas semangat. Cuma melambung tinggi!. Terlalu tinggi untuk bisa terlihat tak ada penghormatan. Ku kira mampuku merobohkan dinding dasar ternyata hanya karena kebaikan mereka aku dapat melampauinya.

Mencari tempat yang akan dirobohkan dinding pertamanya. Ternyata sulit hatiku bingung berlari kesana-kemari lalu melakukan percobaan ternyata tak. Hatiku terguncang terpukul bahkan terasa lebih sakit daripada jiwaku sendiri.

Mondar-mandir hatiku jadi sia-sia. Kutemukan dinding itu. Aku masih tetap dengan topeng angkuhku walau tak setinggi sebelumnya. Aku terpuruk tak mau berjuang tak mengerti hidup dan hati.

Tempat ini, aku baru menyadarinya kalau aku bukan orang tapi manusia aneh. Benar-benar merasa terpuruk rasa seni semakin meninggi. Melihat ke arahku ke arah hati pintar, ku tulis sebuah kata penghayatan.

Baru kusadari bahwa sepi itu terlalu menyesakkan untukku. Aku tak pernah mampu hidup dengan kata sepi jiwa merintih,,,sepi. Tapi dinding pertama juga temukan teman yang apa adanya mengerti, berbahagia dalam sepi!!!!.

Membuka lembaran-lembaran dulu kenapa hanya tercatat banyak sepi? Benarkah tak pernah kutorehkan bahagia disana?

Di dinginnya malam menggigil, dengarkan deraknya rasa aneh terus menyergapku.

Perjalanankan ku terus berlanjut. Di sisa-sisa berjalananku disini jiwaku meringkuk ada perkataan sang hati yang membuatku tercekat dan lumpuh. Aku memang tak mampu menjadi seperti hatiku yang baik itu, yang pintar itu, mungkin sampai kapan pun aku tak kan mampu tuk sedikit saja membuat separuh hatiku tersenyum bangga.

Jika sampai nanti, sampai matahari terbenam di ufuk barat. Aku masih belum saja mampu membuat hatiku tersenyum lega dan bangga aku minta maaf. Tapi semoga bintang yang selalu menjadi kebanggan mereka tetap ada untuk mendamaikan hati yang risau. Tapi aku percaya akan kekuatan doa, aku percaya akan belas kasih Tuhan yang akan selalu mendengar jerit dan rintihan hambanya.

Aku adalah aku, aku pasti bisa membuat bintangku bersinar hingga mereka dapat melihat setiap niat tulusku. Aku yakin waktu dan kesempatan itu akan datang suatu hari nanti!.

Lalu, dinding pertama telah roboh tanpa ada gejolak yang cukup berarti hanya sedikit ketakutan akan kesalahan yang sama tapi akhirnya tlah terlewati walaupun tak terlalu sempurna.

Pencarian dinding atas tak serumit sebelumnya, ku menemukannya dan sedikit kutemukan hatiku sedikit senyum, aku bersyukur. Disini, awalnya tak ku temukan apa-apa yang menyenangkan sampai disuatu pagi sudut mataku tak sengaja menemukan sesosok yang mampu membuatku sedikit tertegun.


Sayu matamu mencipta untaian kata 
Membentuk jajaran puisi terindah 
Yang tercipta hanya untukmu 
Senyum manismu mencipta lukisan 
Diantara kegersangan hati 
Lukisan sang hawa yang tertegun melihatmu 
Aku yang melihatmu dari jauh 
Dibalik kedua bola mata ini 
Melihat kearifan yang terpancar dari jiwamu 
Kau begitu indah 
Hingga ku yakin 
Kaulah inspirasiku 

Sosok itu yang mampu membuatku sedikit menikmati drama ini. Awal kisah ku bertemu dengan seseorang itu. Mulai mencoba selangka demi selangkah mendekatinya tapi pada akhirnya aku tau bukan dia yang ku tunggu.

……..



Maandag 01 April 2013

tetang senja

guratan emas menggelitik mataku
mengguratkannya diwajah senja
sedikit menggertak
tubuh mulai bergetar
harus berpacu dengan waktu
sebelum malam menenggelamkanku

Lama aku tak bercumbu dengan sajak yang dulu pernah membuatku sungguh merasakan sesuatu yang kini untuk membayangkan pun begitu sulit. Mencari-cari hal itu yang mampu menenangkan batin tak pernah tersadari olehku mungkinkah sesosok  yang ku cari ada pada dirimu. Semuanya masih sama masih kelabu……….buram…………tapi seperti kata seseorang itu aku disini hanya menjalani scenario Tuhan. Tak berucap pun Tuhan tau apa yang benar-benar aku tunggu saat ini. Mungkin hanya sedikit saja tuk kembali mengecup senyumya bukan dalam dirinya tapi mungkin dalam diri seseorang yang memang untukku. Harapan atau kata cinta itu sendiri tak pernah ku tau dengan sungguh bagaimana bentuk dan wujudnya. Mugkin jika hal ini kan slalu terulang hatiku kan benar-benar beku menunggumu jangan jadikan hal itu, jika itu tak mungkin. Sadarkan aku segera ‘tutup pintu batinku’ ‘butakan mataku’ ‘tulikan telingaku’ ‘lumpuhkan kakiku’.

Saterdag 30 Maart 2013


Syairku melambung..
Aku ingin segera kembali disisi senja menggelanyut manja. Tubuh gemetar melihat guratan dan rintihan kidung malam yang membayang terus ketika senja berjalan
Jadikan aku laki-laki mampu tegar renta menyelinap atau tampar aku agar aku sadarku tau apa yang harus aku lakukan

,,,ku lanjutkan hidupkanku.
Merintih lelah mendayung sampan ingin berlabuh dikaki senja meluruskan kaki yang terbijur kaku
Diatas tumpukan emas ombak tak mampu menghempaskan tubuh ke tepi malah ke tengah
“ini bukan hidup!”
Seruku ini adalah hal gila tapi mampu memerahkan senja. Sandaran menghilang atau tertinggal?
Ketika ku menoleh kebelakang ingin sekali aku bertemu lalu memelukmu
Ingin kembali bersama tertawa, tersenyum sampai tiada hentinya
Tapi nyatanya tak ku temui apa-apa